NUNU LOVE CHULIE, TETEM, ONYU

Kamis, 27 Januari 2011

MOLA HIDATIDOSA

A.   Pendahuluan
Mola hidatidosa  atau yang sering disebut sebagai hamil anggur    merupakan suatu kehamilan yang abnormal  dengan ciri – ciri stroma villus korialis langka vaskularisasi  dan edematous.   Frekuensi terjadinya Mola Hidatidosa di Asia adalah 1 dari  120 kehamilan jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan frekuensi di Eropa yang hanya 1 dari 2000  kehamilan.
Kehamilan Mola Hidatidosa dapat dikeluarkan dengan tindakan tertentu  atau keluar sendiri namun biasanya dengan perdarahan yang sangat banyak.

B.   Pengertian
Mola Hidatidosa merupakan kegagalan pada awal kehamilan karena  trofoblas mengalami perubahan (degenerasi hidropik) yang berbentuk seperti gelembung.  Keadaan ini dapat berubah menjadi keadaan yang ganas yaitu  terjadinya korio karsinoma.
C.   Etiologi
Tidak diketahui dengan pasti tapi diduga karena defisiensi protein karena  Mola Hidatidosa sering ditemukan pada sosial ekonomi rendah.
D.   Pathogenesis
1.    Missed  Abortion  mengakibatkan gangguan peredaran darah kemudian terjadi gelembung mola.
2.    Menurut Reynold :  missed abortion karena  defisiensi asam folat  dan histidin yang menyebabkan gangguan angiogenesis.
3.    Menurut Park :  degenerasi hidropik sel – sel  tropoblas.
Semua itu dengan disertai kadar HCG (Human Chorionic Gonadotropin) yang tinggi.
E.   Factor Resiko
1.    Terjadi pada social ekonomi rendah
2.    Umur antara  20  - 34  tahun
F.     Gambaran klinis
1.    Pertumbuhan trofoblas  yang berlebihan menyebabkan uterus sangat cepat membesar dan besarnya tidak sesuai dengan umur kehamilan.
2.    Perdarahan disertai dengan pengeluaran gelembung mola
3.    Anemis dengan  Facies mola (muka pucat,  seperti  Hiperemesis  gravidarum).
4.    Pada Leopold tidak teraba janin
G.   Penegakkan Diagnosa
1.    TFU yang tidak sesuai dengan usia kehamilan
2.    Keluar darah disertai gelembung mola
3.    Pada USG terlihat ganbaran badai salju
4.    Sonde Acosta sison positif
5.    Laboratorium : titer HCG sangat tinggi
H.   Diferensial Diagnosa/ Diagnosa  Banding
1.    Hidramniom
2.    Gamely
3.    Makrosomia
I.      Penyulit
1.    Pre Eklampsi dan Eklampsi
2.    Tirotoksikosis yaitu produksi tiroid yang berlebihan
3.    Timbul  kista lutein  yaitu kista yang berada di samping kiri dan kanan ovarium
J.      Terapi
1.    Perbaikan keadaan umum
2.    Pengeluaran jaringan mola  ; pengeluaran jaringan mola dapat mengakibatkan perdarahan oleh karena itu sebelum melakukan pengeluran jaringana mola secara digital klien diberikan uterotunika. Uterotunika yang  biasa digunakan adalah Metylergometrin. Berikan Metylergometrin 1 ampul IV. Perlu diingat pengeluaran jaringan mola tidak boleh dilakukan pada klien yang anemia.
3.    Profilaksi terhadap korio karsinoma  dengan sitostatika
4.    Follow up ; klinis dan laboratories
5.    Bila pada ibu cukup anak maka dilakukan histerektomi
Titer HCG  harus turun selama 14 hari setelah terapi jika tetap tinggi maka dicurigai Korio Karsinoma.  Untuk menurunkan kadar HCG pada Korio karsinoma adalah dengan memberikan Methotrexat (MTX). Syarat pemberian Methotrexat adalah Hb harus di  atas 10 g%, eritrosit normal, leukosit   normal (di atas 5000), fungsi ginjal dan hati normal.
Jika Anda seorang bidan dan  menemukan kasus Mola Hidatidosa maka tindakan yang dapat anda berikan sebelum merujuk adalah :
1.    Pasang infus
2.    Berikan suntikan Metylergometrin 1 ampul
3.    Keluarkan jaringan mola secara  digital
4.    Beri antibiotik jika tempat rujukan jauh
Hanya itulah yang dapat saya uraikan mengenai  Mola Hidatidosa. Semoga posting kali ini bermanfaat bagi pembaca. Jangan lupa kasih komen ya ^^

Senin, 10 Januari 2011

KANKER SERVIKS

Awalnya saya tidak begitu tertarik untuk menulis mengenai Kanker Serviks namun setelah perayaan HKN (Hari Kesehatan Nasional ) 2010 yang diadakan oleh POLTEKKES KEMENKES Banjarmasin saya jadi tertarik untuk menulis tentang ini. Saat perayaan setiap jurusan di POLTEKKES mengadakan pelayanan kesehatan gratis dan kami dari jurusan kebidanan juga memberikan pelayanan kebidanan gratis diantaranya adalah pemberian konsultasi mengenai kaker serviks dan kebetulan saya yang kebagian jadi konselornya.

A. Pendahuluan

Kanker serviks merupakan momok yang sangat menakutkan bagi kaum wanita. Bagaimana tidak, diantara semua tumor ganas ginekologik kanker serviks menduduki peringkat pertama di Indonesia. Estimasi di Indonesia kejadian kasus baru 80 – 100 kasus baru per 100.000 penduduk dengan umur penderita antara 30 – 60 tahun, terbanyak antara 45 – 50 tahun.

B. Pengertian

Kanker serviks adalah keganasan primer pada serviks uteri. Didahului dengan adanya lesi pra kanker cukup panjang yang disebut Cervikal Intraephitelial Neoplasia (CIN).

C. Etiologi

Penyebab langsung dari kanker serviks belum diketahui secara pasti. Namun ada faktor risiko yang memungkinkan terjadinya kanker serviks :

1. Setiap wanita yang pernah melakukan hubungan seksual

2. Belum kuat menerima rangsangan sperma ( hubungan seksual pertama kali pada usia di bawah 16 tahun)

3. Perokok. Nikotin berpengaruh pada seluruh selaput lendir tubuh. Nikotin adalah zat oksidator yang berpengaruh jelek pada sel tubuh. Pada wanita perokok squamo columnar junction (lapisan pada mulut rahim yang terletak di bawah squamosa) menjadi lebih sensitive terhadap rangsangan sperma sehingga mudah terjadi perubahan sel (terjadi neoplasia sehingga sel sehat menjadi sel kanker)

4. Terinfeksi HPV (Human Papilloma Virus) tipe 16 atau 18.

5. Memiliki pasangan seksual berganti – ganti

6. Multigravida (wanita yang hamil lebih dari sekali)

7. Status sosial ekonomi yang rendah (hygiene seksual yang jelek)

8. Mengabaikan kebersihan alat genital yang memudahkan terjadinya servisitis.

D. Patologi

Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (fortio) dan endoserviks kanalis servikalis yang disebut sebagai Squamo Columnar Junction (SCJ).

Pertumbuhan tumor :

1. Eksofitik : mulai dari SCJ ke lumen vagina

2. Endofitik : mulai dari SCJ ke stroma serviks

3. Ulseratif : mulai dari SCJ merusak serviks berupa ulkus (koreng).

Serviks yang normal secara alami akan mengalami proses metaplasia (erosi). Perubahan pra kanker serviks menjadi kanker serviks memerlukan waktu 10 tahun.

Tipe Karsinoma berdasarkan jenis

1. Karsinoma Skuamosa

2. Adeno Karsinoma

3. Karsinoma Adenoskuamosa

4. Clear Cell

5. Small Cell Carsinoma

E. Stadium

1. Stadium 0

Karsinoma insitu (KIS), karsinoma intraepithelial, membran basalis masih utuh.

Terapi untuk kanker serviks stadium 0 adalah dengan konisasi (pemotongan serviks). Kesembuhannya 100%.

2. Stadium I

Kanker sudah mengenai daerah serviks.

· Stadium Ia

Karsinoma makro infasif, merusak membrane basalis dan sel tumor sudah memasuki stroma tidak lebih 3 mm, sel tumor tidak terdapat dalam pembuluh limfa atau pembuluh darah.

· Stadium Ib occ (Ib occult = Ib yang tersembunyi)

Secara klinis tumor belum Nampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologik ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia

· Stadium Ib

· Secara klinis telah diduga adanya tumor, invasi ke dalam stroma serviks.

3. Stadium II

Keganasan sudah menjalar ke 2/3 bagianatas vaginadan parametrium, tidak sampai dinding panggul.

· Stadium IIa

Penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrate tumor.

· Stadium IIb

Penyebaran ke parametrium uni/bilateral tetapi belum sampai dinding panggul.

4. Stadium III

Penyebaran sudah mencapai 1/3 bagian distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.

· Stadium IIIa

Penyebaran 1/3 distal vagina, tidak sampai dinding panggul.

· Stadium IIIb

Penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul atau proses pada tingkat I atau II, tetapi sedah ada gangguan faal ginjal.

5. Stadium IV

Keganasan telah ke luar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rectum dan /atau kandung kemih (secara histologik), atau telah terjadi metastasis ke luar panggul atau ke tempat - tempat yang jauh.

· Stadium IVa

Proses sudah ke luar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi mukosa rectum dan atau kandung kemih.

· Stadium IVb

Telah terjadi penyebaran jauh.

F. Gambaran Klinis

1. Awal – awal keputihan bersemu darah

2. Keputihan berbau busuk dan bersemu darah.

3. Perdarahan. Biasanya terjadi setelah melakukan hubungan seksual (post coital bleeding).

4. Rasa nyeri (pada stadium lanjut).

5. gangguanBAB dan BAK

Apabila sel kanker mengakibatkan pembuntuan saluran kencing (ureter) terjadi uremia. Kematian biasanya karena : 1. Uremia, 2. Perdarahan yang tidak bisa dihentikan. Perdarahan kadang dicegah dengan tampon yang dicelupkan pada asam asetat supaya pembuluh darahnya buntu.

G. Diagnosa

Ditegakkan dengan biopsi, ditemukan sel karsinoma dan jenis sel secara patologi anatomi (P.A.)

Urutan diagnostik :

1. Pap Smear

2. Kolposkolpi

3. Biopsy

4. Konisasi

H. Pencegahan

1. Pap Smear

Suatu pemeriksaan lendir serviks lalu dioleskan ke object glass ,dikeringkan. Setelah itu direndan dengan alcohol 96% kemudian di kirim ke laboratorium patologi anatomi. Di laboratorium diberi pewarna dan diperiksa di bawah mikroskop untuk mengetahui apakah ada kecurigaan ke arah ganas atau tidak.

2. IVA (Inspeksi Visual Asam asetat)

Asam asetat 3 – 5% disemprotkan ke fortio . Asam asetat akan diikat oleh sel – sel yang rusak. Fortio yang tadinya merah jika mengikat asam asetat menjadi putih.

I. Prognosis

Tergantung pada :

1. Umur

2. Keadaan umum

3. Tingkat keganasan

4. Cirri histologik sel tumor

5. Kemampuan ahli atau tim yang menangani

6. Sarana pengobatan yang ada

J. Ramalan bisa hidup sampai 5 tahun

Stadium 0 : 100%

Stadium I : 85 – 90 %

satdiumII : 70%

stadium III : 50%

stadium IV: 15 – 25 %

Itulah yang saya ketahui mengenai kanker serviks menurut sumber yang saya baca dan yang saya pelajari di kampus. Tidak lupa saya ucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah mengirimkan dr. Suharto, S.pOG sebagai perantara menyampaikan ilmu ini kepada kami.

Kamis, 08 April 2010

0

TUGAS

PENDAHULUAN
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system.
Neonatus bukanlah miniatur orang dewasa, bahkan bukan pula miniatur anak. Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri, karena bantuan dari plasenta selama di dalam rahim terhenti. Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Perubahan yang terjadi meliputi perubahan pada sistem kardiovaskular, pernapasan , pencernaan , ginjal, dan metabolic bayi.
Refleks makan
Sejak lahir, seorang bayi normal dapat mengisap dari puting payudara, menyalurkan air susu ke bagian belakang mulut dan menelannya selama lima sampai sepuluh menit sampai bernapas normal. Terdapat program refleks dan perilaku bawaan, yang menjadi semakin jelas dalam sekitar satu jam setelah peersalinan, termasuk kemampuan bergerak dari perut ibu ke payudara, aktifitas tangan terkoordinasi, gerakan mencari putting payudara, melekat ke payudara, dan makan secara rakus sebelum jatuh tertidur. Sentuhan pada langit-langit memicu refleks mengisap. Neonatus memperlihatkan kerja rahang ritmik, yang menciptakan tekanan negatif, dan kerja peristaltik lidah dan rahang memeras air susu dari payudara dan memindahkannya ke kerongkingan yang kemudian memicu refleks menelan. Pada neonatus normal, reflek menyusui ini kuat saat lahir dan sudah tampak pada bayi prematur sejak usia sekitar 32 minggu (sekitar 1200 gram). Bayi yang sangat prematur dan mereka yang berisiko sakit atau berat lahirnya sangat rendah memperlihatkan penurunan mencolok atau tidak adanya refleks. Bayi lain mengalami yang masalah makan mencakup, misalnya ,mereka yang mengidap gangguan fisik misalnya bibir atau langit-langit sumbing dan mereka yang terkena sedasi atau analgesia obstetrik, atau stress berat pada persalinan.


Refleks mengisap dan menelan dibantu olek konfigurasi morfologis mulut neonatus yang khusus , langit- langit lunaknya secara proporsional lebih panjang. Neonatos juga memiliki refleks ekstruksi sebagai respons terhadap adanya bahan padat atau setengah padat di dalam mulutnya. Refleks ini hilang pada usia 4-6 bulan dan diganti oleh suatu pola gerakan menggigit ritmik yang bersamaan dengan tumbuhnya gigi pertama pada usia 7-9 bulan.
Pembentukan hormon dan enzim
Sekresi gastrin sudah ada , tetapi rendah ; respons terhadap hormone pengatur pencernaan juga tampaknya rendah .Efeknya adalah getah lambung memiliki pH mendekati netral (dibandingkan dengan pH 2 pada lambung orang dewasa).pH lambung yang tinggi berarti bahwa amilase air liur tidak mengalami inaktivitas di lambung sehingga pencernaan zat pati dapat berlanjut.Refluks isi lambung sering terjadi karena sfingter esophagus bawah masih immatur,baik dalam pengendalian saraf maupun otot.Getah lambung yang tidak terlalu asam tidak menimbulkan kerusakan jaringan mukosa esofagus tetapi juga kurang efektif dalam mendenaturasi protein termasuk organisme .Diperkirakan refleks air susu manusia merupakan hal yang menguntungkan karena sejumlah kecil air susu dapat mencapai bagian atas saluran nafas untuk memberi keuntungan imonologis di tempat tersebut.Bayi yang mendapat ASI(air susu Ibu) memperlihatkan insiden masalah pernapasan yang rendah.Penurunan produksi asam dilambung berarti bahwa pengaktifan pepsinogen menjadi pepsin terbatas ,sehingga pencernaan protein dilambung juga terbatas . Penurunan keasaman dan pencernaan protein mungkin meningkatkan pertahanan dan meningkatkan aktivitas imunoglobin dan pengenalan antigen di saluran cerna karena protein ini dapat bertahan terhadap lingkungan lambung yang relatif “ ramah”.
Pada neonatus,kadar amilase pankreas rendah, tetapi ASI mengandung amilase mamaria , yang dapat membantu pencernaan Kanji. Kolostrum terutama kaya akan amilase mamaria. Perkembangan aktivitas laktase berlangsung relative lambat, dan mencapai tingkat yang adekuat setelah usia gestasi 36 minggu. Namun, banyak bayi prematur dapat mencerna laktosa dengan memuaskan karena laktosa yang tidak di serap dapat di cerna oleh bakteri kolon menjadi asam lemak rantai pendek, yang kemudian dapat diserap sehingga energi dapat diselamatkan. Kadar lipase pankreas yang rendah dikompensasi oleh lipase lidah dan lambung yang di bentuk oleh neonatus ( dirangsang oleh pengisapan ) serta lipase di ASI yang di rangsang oleh garam empedu. Pembentukan asam empedu rendah, tetapi ASI kaya akan taurine, yang digunakan untuk konjugasi garam empedu oleh neonatus.
Fungsi Hati Pada Neonatus
Pada janin, hepar berperan sebagai tempat penyimpanan glikogen dan zat besi
Vitamin K dalam hepar pada neonatus sangat minimal oleh karena pembentukannya tergantung pada aktivitas bakteri. Defisiensi vitamin K dapat menyebabkan perdarahan neonatus pada beberapa hari pertama pasca persalinan.
Proses glukoneogenesis dari asam amino dan timbunan glukosa yang memadai dalam hepar belum terjadi saat kehidupan neonatus. Lebih lanjut, aktivitas kadar hormon pengatur karbohidrat seperti cortisol, epinefrin dan glukagon juga masih belum efisien. Dengan demikian, hipoglikemia neonatal adalah merupakan keadaan yang sering terjadi bila janin berada pada suhu yang dingin atau malnutrisi.
Proses glukoronidasi pada kehidupan awal neonatus sangat terbatas sehingga bilirubin tak dapat langsung dikonjugasi menjadi empedu. Setelah hemolisis fisiologis pada awal neonatus atau adanya hemolisis patologis pada isoimunisasi nenoatus dapat terjadi kern icterus
Defekasi
Pengeluaran mekonium, suatu campuran mucus sel epitel, asam lemak, dan pigmen empedu (yang dmenyebabkan warna khas kehijauan), memastikan bahwa ususn bagian bawah paten. Pengeluaran tinja peralihan (mekonium dan residu makanan), biasanya dalam 24 jam, mengisayaratkan bahwa seluruh usus paten. Saat lahir, kapasitas lambung 10-20 ml, yang dengan cepat meningkat menjadi 200 ml pada satu tahun.




B. Perubahan Pada Sistem Saraf
Pembentukan sistem saraf pada janin Embrio akan terus membesar sehingga pada minggu ke-5 terdapat 3 lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm. Ektoderm adalah lapisan yang paling atas dan akan membentuk sistem saraf pada janin tersebut yang seterusnya membentuk otak, tulang belakang, kulit serta rambut. Neurulasi adalah pembentukan lempeng neural (neural plate) dan lipatan neural (neural folds) serta penutupan lipatan ini untuk membentuk neural tube, yang terbenam dalam dinding tubuh dan berdesiferensiasi menjadi otak dan korda spinalis. Pada mulanya, tabung ini menutup pada tempat dimana akan terjadi pertemuan antara otak dan medula spinalis, sehingga kedua ujungnya menjadi terbuka. Pada saat tersebut, embrio melipat pada sumbu panjangnya sendiri dan membentuk lipatan kepala pada tabung neural ditempat pertemuan ini. Ujung kranial tabung neural menutup, di ikuti penutupan tabung kaudalnya. Selama minggu kelima, tingkat pertumbuhan yang berbeda menimbulkan banyak lekukan pada tabung neural, sehingga dihasilkan tiga daerah otak : otak depan, otak tengah dan otak belakang. Otak depan berkembang menjadi mata (saraf kranial II) dan hemisfer otak. Perkembangan semua daerah korteks serebri terus berlanjut sepanjang masa kehidupan janin dan masa kanak-kanak. Sistem olfaktorius dan thalamus juga berkembang dari otak depan. Saraf kranial III dan IV (occulomotorius dan trochlearis) terbentuk dari otak tengah. Otak belakang membentuk medula, spons, serebelum dan saraf kranial lain. Gelombang otak dapat dicatat melalui elektroensefalogram (EGG) pada minggu ke-8. Medula spinalis terbentuk dari ujung panjang tabung neural. Pada mudigah, korda spinalis berjalan sepanjang kolumna vertebralis, tetapi setelah itu korda spinalis tumbuh lebih lambat. Pada minggu ke-24, korda sinalis memanjang hanya sampai S1, saat lahir sampai L3 dan pada orang dewasa sampai L1. Mielinisasi korda spinalis mulai pada pertengahan gestasi dan berlanjut sepajang tahun pertama kehidupan. Fungsi sinaps sudah cukup berkembang pada minggu ke delapan sehingga terjadi fleksi leher dan badan. Struktur ektodermal lainnya, yaitu neural crest, berkembang menjadi sistem saraf perifer. Sel neural crest yang terlepas dari tepi lateral lipatan neural, menghasilkan ganglion spinal dan ganglion sistem autonom serta sejumlah sel jenis lain. Mesoderm paraksial, yang paling dekat dengan notokord dan neural tube yang sedang berkembang, berdiferensiasi untuk membentuk pasangan blok jaringan atau somit. Somit pertama muncul pada hari ke-20. Terdapat sekitar 30 pasagan somit pada hari ke-30 yang meningkat menjadi total 44 pasangan. Somit berdiferensiasi menjadi sklerotom, miotom, dan dermatom yang masing-masing menghasilkan tulang rangka sumbu, otot rangka dan dermis kulit.
Perkembangan saraf janin intra uterus
Trimester I (0 – 12 minggu)
o Pada minggu ke-8, serabut-serabut saraf tersebar ke seluruh tubuh.
o Pada usia 10 minggu, rangsangan lokal dapat memicu gerakan berkedip, gerakan membuka mulut, penutupan jari tangan yang tidak sempurna, dan fleksi plantar jari kaki.
o Minggu ke-11 atau ke-12, janin membuat gerakan nafas, menggerakkan seluruh anggota geraknya dan mengubah posisi di dalam rahim.
o Janin dapat menghisap ibu jarinya dan berenang dalam kolam cairan amnion, bersalto dan mungkin membuat simpul pada korda umbilikalis.
o Janin berespons terhadap kebisingan, sinar yang kuat, stimulasi yang mengganggu pada kulit, dan penurunan suhu dengan mengubah respons otonom, misalnya kecepatan denyut jantung dan dengan bergerak.
Gambar 1.1 Perkembangan janin intra uetrus trimester I

Trimester II (12 – 28 minggu)
o Gerakan janin dapat dirasakan sejak usia gestasi 14 minggu; “latihan fisik” diperkirakan membantu pertumbuhan otot dan ekstremitas.
o Pada minggu ke-16, sistem saraf janin mulai berfungsi. Stimulasi dari otak sudah di respons oleh otot-otot sehingga janin bisa mengoordinasikan gerakannya.
o Janin makin aktif bergerak. Dia menendang-nendang bahkan melakukan aksi berputar dalam rahim ibu. Apabila gerakan cukup kuat untuk di rasakan ibu sebagai gerakan bayi maka terjadilah quickening. Untuk nulipara, perasaan ini biasanya di alami setelah minggu ke-16 gestasi. Pada multipara, quickening dapat dirasakan lebih awal. Pada waktu itu, ibu menjadi sadar akan siklus tidur dan bangun janin.
Trimester III (28 – 36 minggu)
o Perkembangan pesat dalam tubuh janin pada awal bulan ke-7 terjadi pada sistem saraf pusatnya, terutama pada otaknya. Bagian otak yang mengalami perkembangan paling pesat adalah otak yang mengelola proses penyampaian informasi kepada organ pendengaran serta organ penglihatan. Perkembangan ini memungkinkan si kecil mampu mengenali dan membedakan antara suara sang ibu dan anggota keluarga lainnya, meskipun suara yang didengar belum sejernih suara aslinya. Kelopak matanya juga telah dapat membuka dan menutup.
o Bola matanya telah dapat digunakan untuk melihat. Bila si ibu berdiri di tempat yang cukup terang, si kecil dapat melihat siluet benda-benda di sekitar ibunya.
o Memasuki bulan ke-9, proses yang terjadi bukanlah proses pembentukan, tetapi lebih bersifat penyempurnaan. Selama trimester ketiga ini, integrasi fungsi saraf otot berlangsung secara pesat.
Pada aterm, susunan saraf sudah siap untuk menerima dan mengolah informasi. Fungsi korteks serebrum pada manusia relatif imatur dibandingkan dengan yang ditemukan pada spesies mamalia lainnya. Mielinisasi sempurna jalur motorik yang panjang terjadi setelah lahir, sehingga gerakan halus jari tangan, misalnya, belum tampak sampai beberapa bulan setelah lahir.
Perkembangan saraf janin ekstra uterus
Setelah lahir, susunan saraf mengalami perkembangan pesat sebagai respons terhadap peningkatan input sensorik. Refleks mungkin sedikit tertekan pada 24 jam pertama, terutama apabila terjadi penyaluran transplasenta analgesia narkotik, tetapi kemudian beberapa refleks mulai tampak. Pada kasus asfiksia berat, skor Apgar yang rendah atau kerusakan saraf, refleks tertekan atau mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk muncul.
o Refleks menggenggam atau refleks Moro digunakan untuk menilai kemampuan refleks bayi baru lahir.
o Bayi juga memperlihatkan genggaman palmar yang kuat dan gerakan melangkah ritmik. Banyak refleks yang terdapat pada neonatus akan menghilang kecuali apabila terjadi proses patologis, yaitu refleks tersebut muncul pada masa dewasa.
o Bayi memperlihatkan kesadaran umum akan keadaan di sekitarnya dan bereaksi terhadap suara dan cahaya.
o Bayi lahir dengan jalur sensorik yang aktif (Haith, 1996).
o Penelitian membuktikan bahwa neonatus dapat mengenali bau ASI. Mereka dapat membedakan rasa dan tampaknya lebih menyukai rasa manis.
o Walaupun bayi sudah dapat melihat pada saat lahir, terjadi perkembangan pesat kemampuan visual dalam 6 bulan pertama.
o Neonatus memperlihatkan ketajaman penglihatan yang terbatas tetapi tampaknya berfokus pada jarak 20 cm. Sejak lahir, bayi dapat membedakan antara kontras dan kontur serta dapat mengikuti gerakan.


o Neonatus mampu mendengar dan membedakan suara, terutama yang berfrekuensi rendah sampai sedang. Penelitian membuktikan bahwa neonatus dapat mengenal suara ibu mereka dan lebih menyukai intonasi ritmik mengalun seperti menyanyi (DeCasper & Fifer, 1980) Neonatus terbuai oleh suara ritmik bernapas, denyut jantung, dan peristaltik usus, yang mereka dengar, misalnya, selagi digendong.
o Bayi tampak terfokus pada rangsang visual dan tampaknya mengolah informasi sensorik.
o Pada keadaan terjaga aktif, kecepatan pernapasan meningkat den ireguler.
o Terjadi perubahan warna kulit, banyak aktivitas, dan bayi memperlihatkan peningkatan kepekaan terhadap rangsangan., Menangis adalah cara berkomunikasi yang biasanya merupakan respons terhadap rangsangan yang tidak menyenangkan. Biasanya neonatus menutup mata mereka, menyeringai, dan mengeluarkan suara. Namun, bayi prematur mungkin tidak mampu membuat keributan.
Dahulu pernah dianggap bahwa tingkat mielinisasi yang belum sempurna dan tidak adanya pengalaman menyebabkan neonatus tidak dapat merasakan nyeri. Persyaratan anatomis dan fungsional untuk merasakan nyeri sudah berkembang sejak awal dan neonatus memperlihatkan respons fisiologis serupa dengan orang dewasa (Porter, 1989). Pengeluaran katekolamin dan kortisol meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan berubah, laju metabolisme dan konsumsi oksigen meningkat, dan kadar glukosa darah meningkat. Kecepatan penyaluran rangsang mungkin lebih lambat tetapi jarak antara reseptor nyeri dan otak yang lebih pendek mengompensasi hal tersebut. Penilaian nyeri mungkin sulit dilakukan karena nyeri dapat diekspresikan secara berbeda; ekspresi wajah dapat digunakan, tetapi sebagian bayi cenderung menarik diri dan meningkatkan kepasifan dan pola tidur sebagai respons terhadap nyeri.